Bumi

Sejak beberapa saat setelah kemunculan di tata surya,
Bumi selalu mengamati Matahari dari jauh,
Dari jarak yang dirasanya aman.

Berada di dekat Matahari selalu menyenangkan,
Matahari membuatnya bersemangat,
Dan memberinya energi terbarukan untuk menghadapi semesta.

Sekian lama Bumi mengamati Matahari,
Kian hari rasanya kian tak biasa.
Mungkin tanpa disadari,
Bumi kagum kepada Matahari.
Asumsikan saja seperti itu.

Bumi kini mengagumi Matahari,
Namun tak berani mendekat.
Bumi tahu,
Selangkah saja ia mendekat,
Maka seluruh tatanan semesta akan berubah.

Bumi kini mengagumi Matahari,
Namun tiap kalinya tak berani terlalu lama.
Bumi tahu,
Sekali saja ia terpaku terlalu lama,
Maka gravitasi Matahari akan menghisapnya tak bersisa.

Bumi menikmati revolusinya,
Sungguh-sungguh menikmati.
Sesekali memang ada gerhana,
Namun itu tak pernah bertahan lama.

Bumi mengerti bahwa berevolusi mengelilingi pusat galaksi tentu melelahkan.
Maka dari itu Bumi lebih memilih untuk tak membuka obrolan dengan Matahari dalam sangat banyak kesempatan,
Sehingga Matahari tak perlu mendengar cerita tak penting mengenai tsunami, angin ribut, ataupun kekeringan.

Dari kejauhan Bumi hanya mampu mendoakan semoga Matahari dikuatkan.
Tak usah merasa sendiri, toh pada nyatanya Bumi tetap di sini.

Rasa-rasanya Bumi ingin selalu berada di dekat Matahari.
Meski seluruh dunia tahu,
Bahwa semesta telah melewati separuh usia.
Bahkan Bumi sendiri tak mampu membayangkan,
Apa jadinya Bumi tanpa Matahari?

Entahlah..
Mungkin tak akan ada kehidupan,
Mungkin tak akan ada acuan waktu,
Mungkin tak akan ada tempat berporos,
Entahlah..

Bumi merasa bahwa terkadang mungkin Matahari ingin berbincang dengannya.
Tapi mungkin Merkurius lebih dekat,
Venus lebih terang,
Dan Mars lebih menarik untuk diajak berbincang karena mengingatkan Matahari dengan seorang kawan jauh, Antares, yang telah sekian lama tak bersua.

Atau bisa jadi,
Mungkin karena Jupiter lebih besar,
Saturnus lebih cantik dengan cincinnya,
Atau mungkin sesekali Uranus dan Neptunus harus mendapatkan perhatian khusus karena letak mereka yang jauh.

Pada akhirnya,
Bumi mengerti bahwa Matahari memiliki planet-planet lain selain dirinya.
Setidaknya, bertemu dalam doa juga sudah lebih dari cukup.
:)

7 September

Jam 10 pagi

Dan saya tak mau berharap kau ingat bahwa tepat 2 tahun lalu kita pertama kali bertemu..

Buku

Melihat rak bukuku,
Mengingat buku bacaanmu,
Sebagian besar sama

Sungguh,
Luar biasa menyenangkan rasanya mendiskusikan buku bacaanmu dan buku bacaanku yang sebagian besar sama

Tapi,
Bukankah lebih menyenangkan,
Jika kelak kau dan aku berjalan bersisian di tepian rak toko buku,
Memilih-milih dengan repot,
Pada ahirnya membeli,
Tiap buku yang kita suka,
Cukup satu

Karena nanti kita dapat membacanya berbarengan

Cerpen : Kesalahan di Meja Makan

Di rumah saya selama ini ada peraturan tak tertulis bahwa meja makan hanya dipergunakan untuk makan, dalam artian bahwa kegiatan makan tidak boleh disambil dengan kegiatan lainnya. Peraturan ini pecah telur ketika saya beranjak kuliah. Seiring dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk, terdapat tugas laporan berlembar-lembar tulis tangan yang harus dikumpulkan setiap senin pagi, ditambah dengan kebiasaan shaum sunnah Senin-Kamis sekeluarga yang menjadikan saya sahur sebari mengerjakan laporan.

Malam ini saya kesal. Kejadiannya di meja makan. Ya, saya yang salah sih sebenarnya, tapi tetap saja saya kesal.

Alkisah tadi malam keluarga saya seperti biasanya makan malam bersama di meja makan. Inti dari permasalahan kekesalan saya adalah kekhilafan saya membawa hape ketika makan. Kisah ini mungkin masih akan baik-baik saja jika hape saya itu hanya ditaruh begitu saja di meja makan.

Masalah dimulai ketika tiba-tiba hape saya berbunyi. Ada sms. Kesalahan kedua saya adalah saya membaca sms tersebut dan membalasnya.

“Kakak (saya anak pertama, makanya dipanggil ‘Kakak’ di rumah), udah, hapenya ditaro dulu” ujar Ibu.

“Iya, Bu, sebentar”

Tidak sekali. Hape saya pun berbunyi lagi. Kesalahan saya yang ketiga adalah mengulangi hal yang sama seperti kesalahan kedua. Tidak heran jika teguran itu meluncur lagi.

“Udah, Kak, nanti aja hapenya kalo udah makan” kali ini Ayah yang menegur.

“Iya, sebentar” saya membalas dengan nada yang kurang rendah.

Suasana makan malam itu menjadi dingin karena saya menjadi makan dengan kecepatan super lalu mencuci piring yang telah saya pakai dan kembali segera ke kamar karena hape saya lagi-lagi bunyi.

Kini saya sedang di kamar. Berkutat dengan hape dan laporan di laptop. Tanpa saya sadari, Ibu masuk ke kamar saya. Yang lebih mengejutkan, Ibu malah meminta maaf.

“Maaf ya, Kak. Dulu peraturan waktu Ibu kecil itu ya ga boleh ngapa-ngapain ketika makan. Dulu juga Ibu selalu ada makan malam bareng keluarga, jadinya Ibu dulu belum makan malam kalau belum lengkap di rumah semua”

Dan Ibu masih melanjutkan permohonan maafnya. “Maaf ya, Kak, karena Ibu tetap pakai agenda makan malam ini jadi Kakak selalu berusaha pulang lebih awal dari kampus, padahal Ibu tau tugas Kakak belum selesai, padahal Ibu tau Kakak malah susah tiap ngerjain tugas di rumah karena ga tau harus nanya ke siapa kalau bingung. Jaman Ibu dan Ayah dulu ketika kecil mungkin ga ada hape, jadi sepertinya peraturan ga boleh ada hape di meja makan itu ga relevan di jaman sekarang”

Hening beberapa detik, sebelum akhirnya saya bersuara.

“Aku juga minta maaf, Bu. Harusnya kan memang kalo ngerjain sesuatu ga boleh disambil. Mungkin itu tujuan dari kebiasaan makan kita selama ini, biar fokus. Maaf juga ya aku sering pulang malem, jadinya sering sampai malem belum pada makan karena nungguin aku pulang. Sebenernya sms tadi juga ga penting-penting amat kok, kan biasanya aku memang ga bawa hape kalo ke meja makan, itu emang akunya aja yang salah kok, Bu..”

Dan kami berdua, ibu-anak, berpelukan. Bendera perang dingin yang selama beberapa jam ini seolah dikibarkan di depan kamar saya telah diturunkan.

Ibu lalu beranjak ke arah pintu kamar. Hendak keluar. Sebelum akhirnya menyempatkan diri berkata sambil tersenyum sebelum menutup pintu,

“Oh iya, Ibu lupa tanya, siapa itu namanya yang tadi nge-sms?”

Retoris.
Pintu kamar pun menutup dari luar seiring dengan saya yang kian tersipu.

Berharap

Suatu hari, separuh hati pernah berharap bahwa akan ada saatnya Alphard menceritakan mengenai apa yang disebut Senja sebagai rasa.

Separuh hati yang lain malah tidak memiliki kekuatan untuk membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Separuh hati ini memilih untuk tetap seperti ini, lengkap dengan seluruh kabut yang ada.

Separuh hati yang pertama, dengan segala asa yang ada, hanya mengharapkan akan ada suatu kisah seindah kisah antara bulan dan samudera, seindah kisah antara nimbus dan telur yang telah menetas.

Separuh hati yang satunya lagi, dengan segala kehati-hatiannya hanya tidak menginginkan jika kisah ini seperti dongeng-dongeng sebelumnya.
Seperti dongeng antara anak kecil dengan ayamnya
Seperti dongeng antara gunung es dengan bunga mataharinya
Seperti dongeng antara Pleiades dengan penemunya
Seperti dongeng antara bunga dengan Jupiternya
Ya, seperti dongeng..

Rindu Bogor

Adakah yang merasa rindu?
Rindu pada Kota Bogor di masa lalu, Kota Bogor di masa kanak-kanak dahulu. Meskipun baru beberapa belas tahun berselang, tetapi rasanya banyak sekali perbedaan yang ada.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu pada hujan yang selalu menyapa hari. Saat payung menjadi benda yang harus dibawa setiap hari dan penunggu tas sejati. Sendal jepit pun sering dibawa ke sekolah untuk antisipasi sebelum sepatu basah.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu pada kabut yang kini sudah susah ditemui. Paling-paling bisa dilihat setelah hujan yang sangaaaaaat deras di sekitar Kebun Raya atau Kampus IPB Dramaga.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu bermain di Kebun Raya. Berlari lepas di taman yang dekat pintu keluar Pangrango Plaza. Berjalan perlahan di jembatan warna merah yang bergoyang-goyang menakutkan itu. Melewati Gedung Sembilan yang bisa dilihat dari Jalan Bangka. Ke tempat yang banyak kaktusnya, yang dari situ bisa terlihat secuil atap Pasar Bogor. Rumah Anggrek. Taman Sudjana Kasan yang terlihat dari jalan raya di atas Lapangan Sempur.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu mengelus-elus dan memberi makan rusa yang ada di halaman Istana Bogor dengan wortel yang dijual di pinggir jalan. Naik delman di Pasar Bogor. Memberi makan kelinci yang dijual di seberang Pasar Bogor padahal ujung-ujungnya ga beli. Lari pagi mengitari Kebun Raya setiap Minggu pagi. Bermain di Taman Kencana. Kapuk randu yang berguguran di halaman IPB dekat Tugu Kujang.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu Museum Zoologi di Jalan Juanda, dengan rangka paus sangat besar yang memesona. Museum Etnobotani di samping Jalan Kantor Batu. Museum Perjuangan di Jalan Kartini. Museum Peta di Air Mancur dengan segala diorama-dioramanya yang ada. Taman Makam pahlawan di Dreded.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu akan Bogor tempo dulu di sepanjang Surya Kencana dan di sekitar Jalan Pangrango.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu berlarian di Lapangan Sempur pada Minggu pagi. Lalu berjalan ke arah belakang, naik tangga yang dulu terasa banyaaaaaak sekali menuju Taman Peranginan. Selanjutnya menyeberang jalan dan membeli kue di Bogor Permai.

Adakah yang merasa rindu?
Roti Unyil Venus. Es Sekoteng di Sawojajar. Mie bakso Apollo di Pasar Anyar. Es doger di samping IPB D3. Mie ayam di Taman Kencana. Bubur ayam yang ada tahunya di samping Pasar Bogor.
(mohon maaf jika paragraf di atas menjadi seperti program wisata kuliner)

Adakah yang merasa rindu?
Rindu ke Taman safari. Menikmati dinginnya Puncak, yang kini sepertinya sudah tak sedingin dulu.

Adakah yang merasa rindu?
Rindu memanjat pohon serta bermain di pematang sawah dan sungai jernih. Kini saya tak tahu bagaimana nasib sawah di belakang kompleks rumah. Sedangkan sungai di belakang rumah? Bahkan untuk ke halaman belakang dan melihat sungai rasanya tak sempat.

Apakah seluruh hal itu masih ada?
Jika tidak, apa karena para orang tua sekarang lebih memilih membelikan anak-anaknya PS dan komik, hingga anak-anak mereka tidak merasakan kesenangan masa kecil mereka dahulu. Atau lebih memilih membawa anaknya ke mall?

Jika ternyata masih, apakah saya yang salah? Hujan-hujanan takkan sakit, palingan cuma buku SD yang basah, tapi itu sih dulu. Mungkin sekarang pun tetap takkan sakit, tapi saya tak mau hujan-hujanan sekarang. Nanti hape bagaimana? Laptop bagaimana? Buku les ini-itu nanti basah..

Hhhhhhhhhh..
Hidup ini yang semakin lama semakin tak ramah membuat saya tanpa sadar membiarkan kenangan manis masa kecil terkikis perlahan.

Assalamualaikum Wr Wb

Assalamualaikum..

Ini blog kedua Saya, yang sebenarnya didapatkan secara cuma-cuma (?) sebagai blog mahasiswa..

Blog ini sepertinya akan jauuuuuuh lebih ‘benar’ jika dibandingkan dengan blog absurd pertama Saya yang isinya sebagian besar adalah lawak di sini

Semoga bermanfaat :)